Mengurai Kemacetan Jakarta, Emang mudah?

Saat ini Bpk Basuki Tjahaja Purnama sudah menjabat sebagai Gubernur DKI satu tahun. Banyak yang claim bahwa pencapaiannya belum lengkap jika belum bisa mengurai kemacetan yang terjadi di Jakarta.

Pertanyaan saya, emangnya mudah mengurai kemacetan? Banyak teori mulai dari bikin jalan layang, peraturan 3 in 1, membuat jalan berbayar, menaikkan pajak kendaraan, dll dsb. Padahal jujur aja, emangnya macet cuma masalah itu” aja??..

Macet sebenarnya terjadi karena beberapa faktor, bukan satu faktor saja. Mulai dari pola berkendara yang jelek, kapasitas jalan kurang memadai, membludaknya kendaraan pribadi, kendaraan umum tidak memadai, dan masih banyak lagi. Seluruh faktor itu digabung dan menjadi chain reaction yang menyebabkan macet. Tidak bisa mengurai macet menggunakan satu solusi saja.

Yang paling mendasar harus dibahas terlebih dahulu adalah pola berkendara yang amat buruk. Entah kenapa Surat Izin Mengemudi mudah sekali dikeluarkan di Indonesia, banyak pula orang yang kurang pengalaman dan kemampuan berkendara bisa membawa mobil / sepeda motor di jalan raya. Coba saja di riset, berapa banyak orang yang sedang membawa mobil di jalan raya mempunyai pengetahuan tentang rambu dan etika di jalan yang cukup.

Salah satu contoh nyata adalah ketika berada di persimpangan, para pengendara semua berebutan untuk jalan tanpa memperdulikan posisi pengendara lain yang ujung-ujung nya menyebabkan gridlock / kondisi dimana seluruh kendaraan tidak bisa bergerak karena posisi nya terkunci tidak bisa maju dan mundur. Kondisi ini disebabkan oleh semua pengendara tidak ada yang mengenal etika di jalan, harus mendahulukan siapa dan siapa yang hendaknya jalan duluan, sekali ngalah smua ngalah, sekali ngeyel semua ngeyel. Seharusnya di persimpangan 3 bentuk T misalnya, jika mobil yang mau menyeberang melihat kondisi jalan lurus sedang tidak bergerak, hendaknya mobil tersebut menunggu di posisi sebelum menyeberang, jadi mobil yang berjalan lurus dari arah berlawanan tidak terhenti karena mobil yang menyeberang tersebut antri sehingga menyebabkan kemacetan di seluruh ruas jalan. Sebaliknya mobil yang berjalan lurus, jika ada mobil hendak menyeberang dan di depan jalannya emang sedang lenggang, hendaknya menghentikan sejenak mobil / motor dan membiarkan mobil yang menyeberang tersebut menyeberang.

Di U turn dan belokan kiri / kanan yang boleh langsung juga sering terjadi, mobil yang hendak berjalan lurus memblokir jalan untuk mobil / motor yang bisa jalan langsung belok kiri / kanan atau naik ke flyover. Hal tersebut juga hendaknya tidak terjadi.

Selain etika, malah saya meilhat rambu-rambu seperti yellow box di persimpangan empat dan garis putus dan lurus di jalan juga sering di langgar. Malahan di bawah rambu dilarang berhenti dan dilarang parkir saja masih ada yang berhenti dan parkir. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab kemacetan yang signifikan. Solusi mungkin pemberian surat izin mengemudi dan pendidikan mengemudi diperketat.

Yang ke dua mungkin menyoal ke kapasitas jalan raya. Bener sih selain cara berkendara, kapasitas jalan raya juga sudah tidak layak untuk memfasilitasi banyaknya kendaraan pribadi di jakarta. Untuk yang satu ini banyak solusi mulai dari ERP, pajak progresif untuk menekan laju penambahan kendaraan, sampai sistem jalan 3 in 1 dilakukan. Saya paling tidak suka dengan sistem 3 in 1, yang menurut saya adalah sistem bego yang memberikan keuntungan kepada operator jalan tol dan membuka lapangan kerja baru bagi joki 3 in 1. Sampai sekarang tidak terlalu efektif, orang yang kepepet mau melewati jalan 3 in 1 tetapi sendirian tinggal sewa joki. Hal tersebut tidak menghentikan orang untuk membawa kendaraan pribadi. Hal yang paling baik adalah fokus ke kendaraan umum dan membuat lahan park and ride di terminal bus atau mrt/lrt, sehingga orang yang membawa kendaraan sendiri dapat parkir di lahan tsb dan menggunakan kendaraan umum. Salah satu masalah orang males naik kendaraan umum adalah faktor biaya.

Contoh saya pribadi, dari komplek ke luar ke busway saya harus mengeluarkan biaya 15ribu untuk ojek. Naik busway sampai terminal tujuan 3500, naik ojek sampai ke tujuan 15ribu. Satu hari saya harus keluar biaya 33500 x 2 = 67rb. Kerja 20 hari berarti biayanya 1.340.000. Cuma untuk transportasi saja. Jika saya naik sepeda motor sampai tujuan, saya hanya perlu membayar biaya bensin 20ribu untk 3 hari, dan 40 ribu satu minggu. Jadi 40.000 x 4 = 120rb. Bahkan jika saya bawa mobil, biaya bensin yang saya keluarkan sekitar 300rb satu minggu x 4 minggu masih 1.200.000. Itu pun mobil saya minum nya oktan 92 keatas. Jadi mobil dan motor pribadi secara efisiensi masih lebih murah daripada kendaraan umum. Soal waktu juga tidak lebih cepat naik kendaraan umum. Saya pernah naik busway pagi-pagi, jam 7 nyampe kantor jam 9 pagi gara-gara bus kepenuhan dan frekuensi bus lambat. Jika saya bawa motor, saya bisa nyampe kantor jam 8.30 pagi jika saya jalan jam 7. Yang agak telat emang bawa mobil pribadi, saya jalan jam 7 nyampe kantor jam 9.30. Tetap aja secara cost banding kenyamanan dan ketepatan waktu masih lebih untung kendaraan pribadi. Selama hal ini ms terjadi tidak akan ada alasan kita untuk memakai kendaraan umum.

Nah yang saya ketahui sampai sekarang sih cuma itu saja. Tetapi masih banyak lagi faktor-faktor seperti parkir sembarangan, dll dsb dll dsb.

Jadi mengurai macet di Jakarta kalau menjadi tolak ukur keberhasilan, menurut saya pribadi sih agak gila dan di tidak beralasan. Mungkin sampai 5-10 gubernur ke depan juga tidak akan bisa selesai jika yang paling dasar di kesadaran berkendara tidak ada.