A Thought Through Eternity – Chapter 1 – Indonesian

Oke sebelum membaca dan complain dan lain-lain sebagainya, saya sedang membaca xianxia ini dan amat menyukai ceritanya. Tokoh utama nya kocak abis dan sukses membuat saya tertawa terbahak-bahak. Mungkin kualitas terjemahannya agak rendah karena saya mengerjakan ini sendirian ( lumayan makan waktu dan tenaga ternyata melakukan terjemahannya ).. tanpa ada proofreader dll.. banyak kata-kata yang tidak bisa diterjemahkan per kata dan harus di ceritakan ulang, semoga Bahasa Indonesia saya cukup memadai untuk menerjemahkan novel ini.

 

Bab 1: Nama Saya Bai Xiaochun

Gunung Hood terletak di Pegunungan Hutan Timur, dan di dasarnya terdapat sebuah desa kecil yang aneh. Penduduk desa disana hidup dengan mengandalkan alam sekitarnya, tanpa banyak kontak dengan dunia luar.

Saat ini sedang fajar, para penduduk desa berkumpul di pintu gerbang untuk berpamitan dengan seorang anak muda berumur lima sampai enam belas tahun. Dia tampak kurus dan lemah, tetapi memiliki kulit yang sehat dan putih, dan penampilan yang menawan secara keseluruhan. Dia mengenakan jubah hijau biasa yang kelihatannya telah di cuci berkali-kali sehingga kelihatan lapuk sampai hampir transparan. Walaupun begitu, mungkin karena cara dia berpakaian ditambah sinar matanya yang tidak bersalah, membuatnya tampak sangat cerdik.

Namanya adalah Bai Xiaochun.

“Yang tersayang Sesepuh dan sesama penduduk desa,” dia berkata, “Aku sedang dalam perjalanan untuk belajar tentang pelatihan Immortal. Aku akan merindukan kalian semua! “ Expresi pemuda itu sedikit sedih, seolah-olah dia tidak tahan untuk berpisah dengan sesama warga desa. Hal ini membuatnya tampak lebih menarik dari sebelumnya.

Penduduk desa di sekitarnya saling bertukar pandang, mengangkat bahu dengan tidak berdaya dan kemudian berpura-pura taampak lebih enggan lagi untuk melihat dia pergi.

Seorang pria tua berambut putih melangkah keluar dari kerumunan dan berkata, “Xiaochun, sejak ayah dan ibu kamu meninggalkan kami, oh sudah lama berlalu, kamu … kamu telah… errr..-” dia berhenti sejenak ” – menjadi seorang anak yang sangat baik!” Melihat bahwa Bai Xiaochun belum meninggalkan mereka, dia pun melanjutkan, “Jangan-jangan kamu tidak tertarik untuk hidup selamanya? Yang harus kamu lakukan adalah menjadi seorang Immortal, kemudian kamu dapat hidup selamanya! Itu adalah waktu yang sangat, sangat lama! Nah, sudah saatnya kamu pergi sekarang. Bahkan bayi elang saja harus belajar untuk terbang akhirnya.

“Tidak peduli situasi apapun yang kamu hadapi diluar sana, kamu harus bertahan dan terus bergerak maju. Setelah kamu meninggalkan desa, kamu tidak boleh kembali, karena jalan kamu akan selalu terbentang di depan sana, bukan di belakang!” Orang tua itu menepuk pundak Bai Xiaochun dengan ramah di pundak.

“Hidup selama-lamanya…. “ Bai Xiaochun bergumam. Dia pun merinding, kemudian secara perlahan-lahan sinar mata penuh dengan keyakinan memenuhi matanya. Di bawah tatapan yang menyemangati dari orang tua dan warga desa lainnya, dia pun mengangguk serius dan melihat sekeliling ke semua orang untuk terakhir kalinya. Akhirnya, dia berbalik dan berjalan menjauh dari desa.

Saat dia menghilang ke kejauhan, penduduk desa mulai terlihat makin bersemangat. Ekspresi sedih mereka berubah menjadi sukacita, dan orang tua yang berwajah baik tersebut pun mulai gemetaran. Bahkan air mata mengalir turun dari wajahnya.

“Keadilan dari Surga! Si musang itu.. akhirnya pergi! Siapa yang mengatakan kepada dia bahwa mereka melihat seorang Immortal di daerah sini? Siapapun itu, aku akan memberikan hadiah besar atas nama desa ini!”

Seluruh desa dengan cepat bergema dengan teriakan sukacita. Beberapa orang bahkan mengambil gong dan drum dan mulai memukul-mukul dengan penuh semangat.

“Si musang telah pergi,” kata seseorang, “tetapi oh, ayam saya yang menyedihkan. Dia membenci ayam jantan berkokok pada saat fajar, entah bagaimana dia mempengaruhi anak-anak desa untuk memakan setiap ayam yang kami punya… “

“Hari ini adalah awal dari sebuah era baru!”

Pada titik ini, Bai Xiaochun berada cukup dekat dengan desa, suara gong dan drum masih kedengaran oleh dia. Dia bahkan mendengar sayup-sayup teriakan kegembiraan.

Dia berhenti di tengah jalan dengan ekspresi aneh di wajahnya. Setelah beberapa saat, ia berdeham dan melanjutkan perjalanan. Disertai suara sukacita yang samar-samar, dia pun memulai perjalanan menuju gunung Hood.

Gunung Hood bukan gunung yang sangat tinggi, tetapi ditutupi oleh semak belukar yang amat tebal. Oleh karena itu, meskipun sekarang ini sedang fajar, suasana dibawah pohon-pohon sangat gelap dan sepi.

“Er Gou mengatakan kepada saya bahwa dia sedang berburu babi hutan beberapa hari yang lalu pada saat dia melihat Immortal terbang di sekitar sini.. ” Bai Xiaochun melanjutkan berjalan, jantungnya berdebar. Tiba-tiba, suara gemerisik terdengar dari semak belukar di dekatnya. Suaranya terdengar seperti babi hutan, hal ini menyebabkan Bai Xiaochun menjadi sangat gugup. Bulu kuduk nya berdiri sambil dia bertanya “Siapa itu? Siapa di sana?”

Dia dengan cepat menarik empat kapak dan enam parang dari dalam tas, tetapi hal itu tidak membuatnya merasa aman, kemudian dia mengeluarkan dan mencengkram dupa berwarna hitam yang tinggal sedikit di tangan kiri nya.

“Jangan keluar!” teriaknya, sambil gemetaran. “Jangan sesekali berpikir untuk bergerak keluar dari dalam semak-semak! Aku punya kapak dan parang, apalagi dupa ini dapat memanggil kilat dari langit dan bahkan memanggil Immortal!. Jika Anda berani untuk menunjukkan wajah Anda, Anda akan MATI! “ Akhirnya, ia berbalik dan berlari ke arah jalan gunung, sambil melempar-lempar seluruh persenjataan di tangannya seperti pemain sirkus. Suara dentingan dapat terdengar pada saat kapak dan parang mulai jatuh ke tanah di kiri dan kanan.

Mungkin apapun itu yang mengeluarkan suara gemerisik sekitar semak-semak beneran ketakutan oleh dia. Suara pun berhenti, dan tidak ada hewan liar muncul dari dalam semak-semak. Bai Xiaochun bergegas menuju gunung, menyeka keringat dari keningnya. Pada titik ini, wajahnya pucat, dan dia hampir mempertimbangkan untuk menyerah menjalankan ide gila dimana dia harus memanjat gunung ini, tetapi kemudian dia berpikir tentang dupa yang diwariskan orang tuanya kepadanya sebelum mereka meninggal. Seharusnya, itu telah diwarsikan dari nenek moyang dia, hadiah yang diberikan oleh seorang Immortal yang telah mereka selamatkan. Sebelum berangkat, Immortal memberikan dupa tersebut untuk membalas budi nenek moyangnya. Selain itu, Immortal tersebut bahkan berjanji untuk mengangkat salah satu anggota dari keluarga Bai sebagai murid. Dia mengatakan kepada mereka bahwa hanya dengan membakar dupa tersebut akan dapat memanggil sang Immortal ke sisi mereka.

Bai Xiaochun sebenarnya telah menyalakan dupa tersebut lebih dari sepuluh kali dalam beberapa tahun terakhir, namun, sang Immortal tidak pernah muncul. Hal tersebut kemudian akhirnya mencapai titik dimana Bai Xiaochun menjadi curiga apakah cerita tentang Immortal tersebut bahkan benar. Akhirnya, ia memutuskan untuk mendaki gunung. Untuk satu hal, karena dupa juga sudah hampir habis, dan lagian, ada yang mengatakan bahwa dia melihat seorang Immortal terbang melewati daerah ini baru-baru ini.

Dan itu adalah bagaimana dia berakhir di situasi saat ini. Teorinya adalah bahwa jika ia bisa berada lebih dekat kepada Immortal tersebut, mungkin akan lebih mudah bagi seorang Immortal untuk merasakan dupa tersebut.

Berdiri di depan gunung, ia ragu-ragu sejenak, kemudian mengertakkan gigi dan memutuskan untuk terus berjalan. Untungnya, gunung itu tidak terlalu tinggi, dan tidak butuh waktu lama untuk mencapai puncak, di mana dia berhenti, terengah-engah. Dia menatap desa di bawah, dan ekspresi emosional muncul di wajahnya. Kemudian dia melirik dupa berwarna hitam yang tersisa berukuran satu jari kuku. Jelas sekali dupa tersebut telah dibakar berkali-kali dan hampir sepenuhnya habis terbakar.

“Sudah tiga tahun. Berkatilah saya, ibu dan ayah. Benda ini HARUS bekerja kali ini!” Bai Xiaochun mengambil napas dalam-dalam, dan kemudian dengan hati-hati menyalakan dupa tersebut. Angin kencang tiba-tiba berhembus, dan dalam sekejap mata, awan gelap memenuhi langit. Petir berderak, dan guntur menggelegar memekakkan telinganya.

Keagungan seluruh kejadian tersebut menyebabkan Bai Xiaochun gemetaran, dia takut bahwa dia akan terbunuh oleh petir. Dia sangat hampir meludahi dupa untuk memadamkannya, tapi berhasil menahan diri.

“Saya sudah menyalakan dupa ini dua belas kali dalam tiga tahun terakhir, dan ini adalah ketiga belas kalinya. Saya harus membiarkannya terbakar! Ayo, Xiaochun! petir tidak akan membunuh kamu. Setidaknya mungkin tidak …. “ Dua belas kali saya menyalakan dupa tersebut di masa lalu, hanya ada petir dan guntur yang muncul, belum ada seorang pun Immortal yang muncul. Setiap kali, dia sebegitu ketakutan sampai dia meludahi dupa itu untuk memadamkannya. Dia sebenarnya merasa agak aneh, dupa yang seharusnya milik seorang Immortal dapat dipadamkan dengan air liur biasa.

Bai Xiaochun duduk di sana gemetar ketakutan pada saat guntur menggelegar di sekelilingnya. Tiba-tiba, seberkas cahaya muncul di udara di kejauhan.

Itu adalah pria paruh baya yang mengenakan pakaian mewah. Dia memiliki sikap mahkluk diatas level manusia, namun ia tampak lelah dan seperti telah melakukan perjalanan jauh. Bahkan, jika kita melihat dari dekat, sinar matanya tampak berkedip dengan kelelahan yang amat ekstrim.

“Akhirnya saya bisa melihat siapa sebenarnya orang tolol yang menghidupkan dupa sepanjang waktu selama tiga tahun terakhir!”

Setiap kali dia berpikir tentang apa yang telah dia alami selama beberapa tahun terakhir, dia sangat kesal. Tiga tahun yang lalu, ia telah merasakan aura obat dupa yang telah dia berikan kepada seseorang ketika dia sedang berada pada tahap Pembentukan Qi. Hal tersebut segera mengingatkan dia bahwa dia mempunyai hutang di dunia fana.

Pertama kali dia terbang keluar untuk menganggapi dupa yang dinyalakan tersebut, dia berasumsi bahwa hal ini akan menjadi perjalanan sederhana, dia cukup terbang keluar dan kembali dengan cepat. Dia tidak pernah membayangkan bahwa bahkan sebelum bisa menemukan dupa itu, auranya tiba-tiba akan lenyap, memutuskan hubungannya dengan dupa tersebut. Jika itu terjadi hanya sekali, itu tidak akan menjadi masalah besar. Namun, selama tiga tahun, aura itu muncul lebih dari sepuluh kali.

Lagi dan lagi pencarian disela, menyebabkan dia terus-menerus meninggalkan sekte untuk kemudian kembali. Datang dan pergi, datang dan pergi Sungguh menyiksa sekali!.

Pada saat dia mendekati gunung Hood, dia melihat Bai Xiaochun. Dengan penuh kemarahan dan frustasi, pria itu mendarat di puncak gunung dan melambaikan tangannya, secara langsung memadamkan dupa tersebut.

Guntur tiba-tiba berhenti, dan Bai Xiaochun menatap pria itu dengan terkejut.

“Apakah Anda seorang Immortal?” Bai Xiaochun bertanya dengan hati-hati. Masih tidak yakin tentang apa sebenarnya yang sedang terjadi, ia menyelipkan tangannya di belakang punggungnya dan menggenggam sebuah kapak.

“Kamu boleh memanggil saya Li Qinghou. Apakah Kamu berasal dari keluarga Bai? “ Mata kultivator paruh baya tersebut bersinar seperti kilat saat dia mengukur Bai Xiaochun, mengabaikan kapak yang berada di belakang punggungnya. Baginya, Bai Xiaochun tampak halus, mendekati cantik, dan mengingatkannya pada teman lamanya dari tahun-tahun yang sudah lama berlalu. Apalagi, bakat laten anak ini kelihatannya cocok. kemarahan Li Qinghou secara bertahap mulai memudar.

Bai Xiaochun mengerjap beberapa kali. Meskipun ia masih agak takut, ia duduk tegak dan berkata dengan suara lirih, “Junior dengan pasti berasal dari keluarga Bai. Nama Saya Bai Xiaochun. “

“Baiklah, ceritakan kepada saya”, Li Qinghou berkata dengan nada dingin. “Mengapa Kamu menyalakan dupa berulang kali selama tiga tahun!?” Dia sangat ingin tahu jawaban atas pertanyaan ini.

Begitu Bai Xiaochun mendengar pertanyaan itu, pikirannya berputar untuk mencari jawaban yang paling baik. Akhirnya, ekspresi melankolis muncul di wajahnya, dan dia memandang ke arah desa di bagian bawah gunung.

“Junior adalah orang yang amat sentimental dan benar,” dia berkata. “Saya hanya tidak tahan untuk berpisah dengan sesama warga desa. Setiap kali saya menyalakan dupa, saya dipenuhi oleh rasa sedih. Hanya berpikir untuk meninggalkan mereka saja cukup membuat saya sakit hati.”

Li Qinghou menatap dengan terkejut. Dia tidak pernah memikirkan kemungkinan seperti itu, dengan demikian, kemarahan dalam hatinya pudah lebih banyak lagi. Dia bisa tahu dari kata-kata anak muda ini saja, bahwa dia adalah anak yang baik.

Namun, berikutnya dia mengirimkan indra ke enam nya ke arah desa, dan dia mendengar suara drum dan gong dan sukacita. Dia bahkan mendengar penduduk desa berbicara tentang betapa senangnya mereka bahwa ‘Si Musang’ telah pergi. Ekspresi tidak enak dipandang muncul di wajahnya, mulai merasa sakit kepala. Dia menatap Bai Xiaochun yang terlihat menawan dan murni, yang nampak seperti seseorang yang tidak akan menyakiti bahkan seekor lalat, dan tiba-tiba dia menyadari bahwa anak ini adalah seorang penjahat sampai ke tulang-tulangnya.

“Katakan yang sebenarnya!” Li Qinghou berkata,suaranya bergema seperti guntur. Bai Xiaochun begitu ketakutan sampai dia mulai gemetaran.

“Hei, Anda tidak bisa menyalahkan saya!” Kata Bai Xiaochun, dengan nada sangat menyedihkan. “Dupa jelek jenis apa ini lagian!? Setiap kali saya menyalakan itu, petir akan mulai menerjang di mana-mana! Aku hampir terbunuh pada beberapa kesempatan! Bahkan, menghindari petir yang menyambar-nyambar tiga belas kali merupakan sebuah prestasi!”

Li Qinghou menatap Bai Xiaochun, tidak berkata apa-apa.

“Jika kamu takut, kenapa kamu menyalakannya lebih dari sepuluh kali?!” tanyanya.

“Karena aku takut mati!” Bai Xiaochun menjawab dengan marah. “Bukankah tujuan utama dari berlatih menjadi Immortal itu adalah untuk hidup selamanya? Saya ingin hidup selamanya! “

Li Qinghou sekali lagi tidak dapat berkata-kata. Namun, dia menyadari bahwa daya tarik anak ini kepada kehidupan abadi amat terpuji, dan menyadari bahwa kepribadiannya mungkin berubah sedikit setelah diberi sedikit pelatihan keras di dalam sekte.

Setelah berpikir sebentar, dia melambaikan lengan bajunya, menyapu Bai Xiaochun menjadi seberkas cahaya yang melesat ke kejauhan.

“Baiklah, ikut dengan saya,” katanya.

“Kita mau kemana?” tanya Bai Xiaochun, tiba-tiba menyadari bahwa mereka sedang terbang. “Ah, kita sungguh tinggi sekali ….” Tanah terlihat sangat sangat jauh dibawah, menyebabkan mukanya memucat. Dia segera menjatuhkan kapaknya dan meraih ke kaki Immortal itu.

Li Qinghou menatap dia memegangi kakinya. Merasa sedikit bingung, dia menjawab, “Ke Sekte Aliran Jiwa.”