Fenomena HOAX di Indonesia

Hoax, istilah ini sering banget kedengaran belakangan ini. Fenomena Hoax di Indonesia sedang berkembang dan banyak dibicarakan, apalagi mendekati pilkada. Hoax, Fitnah menjadi alat ampuh untuk saling menjatuhkan reputasi dan menggiring opini masyarakat.

Hoax yang artinya berita bohong, gossip tidak benar ini sbnrnya bukanlah hal baru. Hoax telah ada sejak zaman dulu, bedanya, karena zaman dulu kita belum terhubung dengan internet se-intens sekarang ini, penyebaran hoax dilakukan dengan menggerakkan personnel bayaran untuk menyebarkan berita bohong dari mulut ke mulut dan hal itu membutuhkan biaya yang besar. Zaman sekarang, amat mudah menyebarkan hoax, media online seperti facebook, whatsapp, bbm dapat dengan mudah menjadi media penyebaran hoax yang sangat efektif, dalam satu hari saja sebuah hoax bisa mencapai ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang.

Ada beberapa orang bertanya kenapa Hoax begitu mudah tersebar di Indonesia? malah anggapan bahwa masyarakat Indonesia maaf kata agak bodoh dan kampungan, tapi hal tersebut tidak 100% benar. Memang ada persentase masyarakat Indonesia yang (maaf) berpendidikan kurang memadai sehingga mudah percaya tanpa pikir panjang, tetapi hal ini bukanlah masalah edukasi semata tetapi mindset yang telah terjadi sejak puluhan bahkan ratusan tahun lamanya. Masih ingat bagaimana penjajah bisa melakukan strategi devide et impera di Indonesia? bangsa sendiri di adu domba? Itu merupakan salah satu contoh klasik ketika HOAX di pakai. Hal ini juga yang terjadi sekarang ini dengan penyebaran Hoax yang marak. Masyarakat mempunyai pemikiran yang kurang skeptis dan kritis, masyarakat mempunyai kecenderungan mempercayai mutlak satu elemen/manusia. Penduduk Indonesia terlalu “baik”.

Kita sering melupakan bahwa selama kita masih manusia, siapapun itu, tidak akan luput dari kesalahan. Ambil contoh di Agama buddhist, ada aturan yang mengatakan bahwa kita tidak boleh makan daging sapi, kemudian tidak boleh begini dan begitu dan masih banyak lagi, apakah itu harus dituruti tanpa bertanya-tanya? salahkah kita bila mempertanyakan hal religius?.. menurut saya ketika hal itu keluar dari mulut sesama manusia, hal tersebut patut dipertanyakan dan di selidiki apapun itu bentuknya. Jika ada tulisan di kitab, baca satu bagian, kemudian baca bagian lain, baca versi bahasa lain dan teliti secara keseluruhan dan baca opini dari berbagai sumber. Bukannya mengajarkan curiga dan berpikiran negatif, tetapi membuka pikiran dan memproses informasi amat penting untuk bisa survive / selamat menghadapi perkembangan teknologi yang amat cepat seperti sekarang ini.

Contoh yang paling simpel untuk bahasa itu : kata “ANJING” satu kata saja bisa bermakna banyak, misalnya : ANJING! = umpatan, ANJING= hewan, ANJING ( mandarin ) =┬áDiam / Sunyi. Di china, Fujian, ada sebuah kota dengan nama ANJING. Villa ANJING Paul Bonnet juga ada di kuta. Jadi makna sebuah kata itu bisa berarti banyak. Itu satu contoh yang sangat simpel.

Saya pernah bertemu beberapa orang yang sangat men”dewa” kan google, pada saat mereka butuh informasi mereka search di google, dan tanpa dipikir panjang langsung mempercayai artikel-artikel yang disuguhkan. Padahal sebenarnya hasil google search dapat dimanipulasi, dan berita Hoax dapat masuk menjadi salah satu hasil search tingkat atas. Bahkan wikipedia saja bisa di edit untuk memberikan informasi palsu oleh sesama manusia yang iseng. Makanya itu pemikiran yang kritis dan skeptis harus benar-benar di sosialisasikan. Kita tidak bisa 100% mempercayai Google atau media sosial atau apapuin itu tanpa adanya klarifikasi dari sumber berita yang resmi dan kredibel, atau dari sumber subjek yang diberitakan.

Sebenarnya bukan hanya di Indonesia, di luar negeri sekalipun hoax bisa tersebar, banyak contoh kejadian misalnya berita tentang justin bieber meninggal. Berita itu disebar melalui sebuah situs berita hoax luar negeri, dan entah bagaimana menjadi viral, tidak sedikit orang yang percaya dan menangis2 karena berita bohong tersebut. Bahkan kasus di luar negeri ( mungkin di Indonesia juga ) ada orang yang mencari gejala penyakit dan bagaimana cara menyembuhkan di Internet, dan ujung-ujung nya stress karena gejala yang diderita mirip dengan kanker ( padahal mungkin cuma nyeri sesaat pada badan, sama sekali gak ada masalah kesehatan ).

Ingat selalu untuk kritis dan berpikir jernih, jangan mau terlalu cepat percaya kepada kata-kata, crosscheck, re-check, dan triple-check. Satu-satunya cara untuk melawan Fenomena HOAX di Indonesia adalah dengan Hanya percaya pada fakta. Karena :

Facts are stubborn things; and whatever may be our wishes, our inclinations, or the dictates of our passion, they cannot alter the state of facts and evidence.” – John Adams (2nd President of the United States)

Fakta adalah sesuatu yang sangat keras (kepala); apapun itu kemauan kita, keyakinan kita, atau kata-kata dari dalam hati (emosional), hal-hal tersebut tidak dapat mengubah kondisi dari fakta-fakta dan petunjuk ilmiah – John Adams ( Presiden Amerika ke 2 ).

 

 

Komentari Tulisan