Pacaran Beda Agama – Tidak Bisa Selamanya

Ini merupakan pengalaman pacaran beda agama yang telah saya jalani selama 6 tahun. Jika anda saat ini sedang menjalani pacaran beda agama, saya doakan anda berhasil. Tetapi jika anda sedang berpikir untuk memulai pacaran beda agama.. jangan lakukan, percaya pada saya. 

Saya dan pacar telah bersama selama 6 tahun, dia muslim dan saya buddhist. Sebenarnya sejak pertama kenal saja saya sudah mengatakan kepadanya, “saya ga mau pacaran beda agama” dan “saya tidak akan bisa menikahi kamu karena kita beda agama”. Tetapi apa daya setelah kenal, ternyata banyak kecocokan dari sifat dan pribadi. Dia merupakan pribadi yang belum pernah saya temukan dari semua mantan-mantan saya. 

Orangnya baik, akomodatif, penyayang, dan masih banyak kelebihan-kelebihan yang baru pertama kali saya temui dari seorang wanita. Kami pun saling jatuh cinta. Selama bertahun-tahun status agama ini saya simpan, kebetulan muka dia tidak nampak pribumi samasekali, kepada orang tua saya bohong bilang dia chinese kristen ( dan orang tua saya pun percaya ). Dimana ada saya disitu juga ada dia, banyak hal manis pahit yang telah kami lewati bersama. 

Dia mengenal hampir semua keluarga saya,  tetapi karena keluarganya termasuk muslim yang fanatik dan taat, saya tidak ditemui dengan keluarga dia. Yang bisa saya temui hanya nenek dia. Selama ini hubungan kami fine dan anteng, gak ada masalah yang besar. Kita juga tidak pernah terlalu memikirkan perkawinan karena telah nyaman dengan kondisi saat ini. Masing-masing mengejar karir. 

Tetapi seperti pepatah chinese zaman dulu, tidak ada jamuan makan tanpa akhir. 3 minggu lalu saya masih ingat, pagi-pagi dia hubungi saya, katanya keluarganya menjodohkan dia dengan seseorang. Hari itu merupakan akhir dari kebahagiaan saya. Saya langsung nekad memberitahu status agama dia yang sebenarnya kepada orang tua saya.

Awalnya saya kira orang tua saya akan murka dan marah, tetapi saya salah nilai, orang tua saya dengan santai berkata “yah padahal orang nya baik banget, gini aja kalian boleh nikah, tetapi agama dijalani masing-masing saja. Saya juga ga akan melarang dia menjalankan agama dia. Kamu adalah anak sulung dan harus bawa marga dan agama keluarga, kamu ga bs pindah agama”. Beneran kaget saya mendengarnya, mungkin semua akan lebih mudah dan saya akan bisa merasa muak dan ngotot nikah jika orang tua saya murka dan marah. Dengan respon yang begitu, saya jadi tidak bisa melawan orang tua. Saya tidak bisa ngotot. 

Selanjutnya saya samperin keluarga si cewe untuk diperkenalkan. Hasilnya sungguh di luar dugaan, semua keluarganya welcome kepada saya dan baik banget, support banget ke saya. tetapi syarat pindah agama ke muslim tidak bisa ditawar-tawar karena emang dr agama mereka aturannya seperti itu, beda seperti agama buddhist yang agak liberal dan tidak memandang agama lain sebagai musuh. Saya disuruh belajar agama islam dengan sungguh-sungguh dan dari hati, malah keluarganya mau mengajarkan saya agama Islam dengan intensif. Benar-benar keluarga baik, saya tidak tega jika saya harus bohong pindah agama demi pernikahan belaka. 

Pindah agama sebenarnya sih bagi saya pribadi bukan masalah besar. Mempelajari agama lain, bukan hal baru bagi saya, saya banyak membaca, banyak melihat dan banyak mendengar, saya bukan tipe orang yang picik dan berpikiran sempit. Saya pernah baca isi al-qur’an dan mempelajari hukum islam. Agama kristen saya juga familiar, agama hindu juga saya pernah baca. Tetapi masalahnya, orang tua saya tidak akan bisa menerima apabila saya pindah agama. Dan perkawinan itu tidak hanya 2 orang saja, tetapi dua keluarga. Bagaimana mau mempersatukan keluarga itu jika masing-masing punya syarat yang berseberangan? 

Sebenarnya bisa saja jika saya berbohong pura-pura masuk islam di depan keluarga dia, dan dia pura-pura ikuti maunya orang tua saya. Tetapi apakah kita harus membangun rumah tangga dengan fondasi kebohongan? menjalani hidup penuh dusta dan dosa? apakah tidak akan ada masalah di kemudian hari? apakah orang tua nya tidak akan murka dan memaksa kita bercerai jika ketahuan bahwa saya tidak benar-benar menjadi mualaf, dan sebaliknya apakah orang tua saya tidak akan murka jika mengetahui jika saya benar-benar mualaf? 

Apapun itu pilihannya, akan ada salah satu pihak keluarga yang akan di korbankan. Intinya yah pernikahan tidak dimungkinkan dalam kondisi ini, apapun itu alasannya.. jalan terakhir hanya Putus jawabannya. Kecuali jika kita mau mengorbankan salah satu pihak keluarga, dimana kedua-duanya adalah orang-orang yang sangat baik sekali. Saya tidak sampai hati untuk melakukan hal itu, lebih baik korbankan perasaan diri sendiri daripada merugikan banyak pihak. 

Mungkin tidak semua hubungan beda agama yang berakhir buruk, ada beberapa keluarga yang bisa saling menerima dengan lapang dada tetapi saya yakin banget hal itu sangat langka. yang akan lebih sering terjadi seperti di hubungan saya, hanya rasa sesal, sedih dan sakit yang dirasakan pada akhirnya. 

Oleh karena itu, bagi anda yang berpikir untuk menjalani pacaran beda agama, mending mikir panjang dulu sebelum jauh melangkah. Daripada harus saling menyakiti dan menghancurkan pada akhirnya, mending jangan dilakukan. Lebih baik bersedih sesaat di awal. Semoga pengalaman dan nasihat saya dapat membantu orang banyak. 

Sabbe satta bhavantu sukhitatta.. 

One Comment

Komentari Tulisan